}

11.20.2014

Mewujudkan Impian



Setelah Sir Edmund Hillary bersama Tenzing Norgay (pemandu/sherpa) kembali dari puncak Mount Everest, hampir semua reporter dunia berebut mewawancarai Sir Edmund Hillary, dan hanya ada satu reporter yang mewawancarai Tenzing Norgay, berikut cuplikannya :



Reporter :  "Bagaimana perasaan Anda dengan keberhasilan menaklukkan puncak gunung tertinggi di dunia?"

Tenzing Norgay :  "Sangat senang sekali"


Reporter : "Anda khan seorang Sherpa (pemandu) bagi Edmund Hillary, tentunya posisi Anda berada di depan dia, bukankah seharusnya Anda yang menjadi orang pertama yang menjejakkan kaki di puncak Mount Everest?"

Tenzing Norgay : "Ya, benar sekali. Pada saat tinggal satu langkah mencapai puncak, saya persilahkan dia (Edmund Hillary) untuk menjejakkan kakinya & menjadi orang pertama di dunia yang berhasil menaklukkan Puncak Gunung Tertinggi di dunia".

Reporter : "Mengapa Anda lakukan itu?"

Tenzing Norgay : "Karena itulah IMPIAN Edmund Hillary, bukan impian saya. Impian saya hanyalah berhasil membantu dan mengantarkan dia meraih IMPIAN-nya".

Disekitar kita, banyak sekali orang seperti Sir Edmund Hillary dan Tenzing Norgay.

Pepatah mengatakan, "Bila Anda hendak jadi pahlawan, harus ada yang bertepuk tangan dipinggir jalan".


Di dunia ini, tidak semua manusia berkeinginan dan memiliki impian seperti Sir Edmund Hillary, menjadi pahlawan.

Mereka ini cukup berbahagia dengan memberikan pelayanan dengan membantu orang lain mencapai impiannya.



Di dunia ini tidak semua orang memiliki 'impian' sebagaimana yang diimpikan oleh Sir Edmund, sebagian orang merasa cukup bahagia jika mampu mengantar orang lain mencapai impiannya. Banyak orang merasa cukup puas di posisinya yang demikian sekalipun mereka tampak tidak masuk dalam berita. Oran seperti Tenzing Norgay merasa tidak terlalu perlu orang lain mengetahui atau tidak, dia juga tidak pernah berpikir apakah orang lain menghargai dan mengingat namanya atau tidak. Orang seperti dia akan cukup puas jika dapat mengantar orang lain mencapai 'impian'-nya. Mereka hanya bertepuk tangan dan memberikan semangat kepada orang lain yang menjalani pertandingan di arena yang sudah mereka putuskan. Betapa pun dukungan mereka keras dan bersemangat, fokus orang-orang acapkali bukanlah pada suporternya, tetapi pada atletnya. Bukan kepada mereka yang ada di tepi arena, melainkan kepada dia yang ada di tengah arena. Sekalipun mereka acapkali tidak terperhatikan, tetapi itulah pilihan mereka, pilihan orang-orang seperti Tenzing Norgay, yang merasa cukup bahagia jika dapat mengantar orang lain mencapai impiannya. Orang seperti mereka akan melakukan sebaik mungkin apa yang dapat mereka kerjakan, menjadi apapun mereka dan apapun pekerjaan mereka - mereka akan tetap melakukannya dengan sungguh-sungguh.

Sifat dan sikap yang dimiliki oleh Tenzing Norgay, dengan mementing kepentingan orang lain, tanpa memikirkan imbalan ataupun jasa, tentu saja memberikan semangat tinggi dalam menjunjung nilai rendah hati dan kehidupan yang berguna untuk orang lain. Apabila kita dapat berpikir dan bertindak sedemikian rupa, sungguh dunia ini masih akan mencatat kehidupan yang dijalani seperti Tenzing Norgany, oleh orang-orang yang berjiwa besar dengan pemikiran hidup untuk kepentingan hidup orang lain,  hati yang bijak, hati yang telah ditransformasi dengan motivasi ilahi... apakah Anda salah satu orangnya yang sedang membaca tulisan ini?

  Mereka merasa cukup menjadi "orang-orang yang bertepuk tangan saja dipinggir jalan".

Kadang, orang-orang seperti ini diperlakukan ibarat "telor mata sapi".

Yang punya telur si Ayam, yang tersohor malah Sapi.



Martin Luther King pernah menuliskan hal seperti ini: "Seandainya seorang manusia ditentukan untuk menjadi seorang tukang sapu jalanan - hendaknya ia menyapu jalanan sebaik Michaelangelo ketika melukis, seindah Bethoven ketika menciptakan musiknya dan seagung Shakespeare ketika menuliskan puisi-puisinya. Dia harus menyapu jalanan dengan begitu baiknya sehingga semua yang di langit dan di bumi ini ibaratnya terhenti untuk mengagumi dedikasi dan karyanya." Itulah yang dilakukan oleh Tenzing Norgay bagi Sir Edmund Hillary, yang juga dapat dilakukan siapa pun juga sesuai dengan pilihan dan keputusannya.


Pertanyaan sebagai refleksi untuk kita adalah: 
“Bisakah kita menjadi seperti Tenzing Norgay?”
"Sudahkah Anda menghargai, menghormati dan mengangkat orang-orang seperti Tenzing Norgay dalam tim kita?"
"Apa yang menjadi pilihan dan keputusan Anda?"

small business home business
Salam,
Sukses Selalu
Photobucket

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

“Terima Kasih Telah Memberikan Waktu dan Komentarnya. Sudi kiranya berkomentar lagi di posting saya berikutnya” – Salam > Bersediabelajar.

Daftar isi

Daftar Isi