}

2.14.2012

Yang Perlu Dihindari & Dijauhkan

Pastinya semua orang tidak ingin mengalami nasib yang buruk. Ya, semua kita tidak ingin mengalami celaka. Sebisa mungkin hal itu dihindari dan dijauhkan dari hidup kita, bukankah begitu para pembaca budiman dan sahabat bersedia belajar? Tetapi ada celaka yang tidak bisa dihindari oleh setiap orang yang "mengadakannya". Nah hal ini banyak orang yang tidak mengetahui atau menyadari dalam kehidupannya. Ia seperti rudal yang memiliki mata untuk setiap sasarannya, tidak bisa luput, pasti mengenai sasarannya, walaupun rudal dalam peperangan yang sering kita saksikan dapat meleset dari sasaran, entah itu karena human erros atau electric erros, tapi kalau yang satu ini, tidak akan meleset dari sasarannya. Nah, untuk itu JAGALAH diri kita dari hal tersebut. dari hal apa itu? Untuk mengetahuinya, mari kita baca uraiannya di bawah ini:
Yang sering didengar dari pengajaran tentang pengampunan adalah ampunilah orang-orang yang berbuat jahat pada Anda. Dan itu memang benar. Siapun yang telah melukai hidup kita, kita perlu mengampuni mereka. Itu obat dari "rasa sakit" yang kita terima atas perlakuan atau tindakan dari mereka yang telah melanggar perasaan kita. Kepada mereka yang telah berbuat jahat, sesuai apa yang Alkitab ajarkan, kita harus memberi pengampunan dan mendoakan mereka dengan berkat, agar jangan timbul akar yang pahit yang akan mencemarkan banyak orang. Tetapi bagaimana dengan mereka yang melakukan pelanggaran tersebut, apa balasan yang setimpal yang mereka akan terima atas perbuatannya? Nah hal ini yang akan dibahas pada postingan ini.

Dalam Lukas 17:1 dinyatakan:"Tidak mungkin tidak ada penyesatan tetapi celakalah orang yang mengadakannya." Banyak orang yang menyimpulkan ayat tersebut ke arah penyesatan pengajaran (ajaran sesat). Sebenarnya arti dari ayat tersebut dapat diartikan dari bahasa Yunaninya: "Tidak mungkin tidak ada yang melukai pelanggaran hati, tetapi celakalah orang yang mengadakannya." Kata penyesatan dari bahasa Yunaninya diambil dari kata "skandalon" ---) mengacu pada jerat berisi umpan; meletakkan jebakan dalam perjalanan seseorang.

Jadi dalam kehidupan sehari-hari kita pasti ada saja yang akan melukai perasaan hati, entah itu berupa perkataan yang menyinggung atau perbuatan yang destruktif. Apapun itu ekspresinya, Alkitab dengan tegas mengatakan bahwa "tidak mungkin tidak ada" artinya pasti ada orang-orang yang akan melanggar perasaan hati kita. Jika itu yang Anda lakukan terhadap orang lain, entah itu teman sekerja di kantor, entah itu kepada bawahan Anda, atau kepada anak Anda sendiri, Anda telah membuka celah, celaka akan mengejar Anda. Perhatikanlah klausal kata "celakalah orang yang mengadakannya" dari ayat di atas.Iblis selalu memberi jerat yang berisi umpan atau jebakan dalam perjalanan seseorang yang tidak terlihat. Hal ini yang sering banyak orang tidak menyadarinya. Seperti seorang pemburu yang ahli membuat perangkap bagi binatang buruannya, sebisa mungkin membuat jerat yang berisi umpan yang berisi jebakan yang "mematikan" binatang buruannya, bisa jerat itu berisi umpan makanan kesukaan binatang tersebut yang menjadi buruannya atau perangkap berupa jaring yang dipasang diberbagai tempat yang sering dilalui binatang tersebut, perangkap yang telah disamarkan dengan ranting-ranting pohon yang tidak terlihat oleh binatang buruannya.Demikianlah iblis, dia sudah pengalaman dengan hal tersebut.

Kisah pengalaman di bawah ini adalah kisah dari seseorang yang pernah mengalami penyataan Tuhan berupa suara Tuhan yang dapat didengar dengan audible (didengar dengan telinga jasmaninya). Pengalamannya tersebut menggambarkan dengan JELAS bahwa musuh jiwa selalu mengintai di setiap waktu untuk merusak dan menghancurkan siapa saja, tetapi syukur, Tuhan adalah pemimpin yang hebat sekaligus Dia adalah Bapa sejati yang baik, Pelindung, dan Allah Yang Setia. Coba dengarkan kisah pengalamannya ini:




Pada suatu kali, ketika saya mau berangkat kuliah ke kampus saya, waktu itu saya menyebarang melewati empat jalur dari kendaraan yang sedang lewat. Untuk menyingkat waktu, saya tidak naik tangga penyebrangan (wah ini tidak boleh diikuti ya…). Selanjutnya saya sampai ditepi sebrangan yang biasa untuk mencegat kendaraan umum kearah tempat kuliah saya. Kemudian saya melihat dari tempat saya menyebrang, ada seorang ibu yang membawa dua anak sekolah berusia 7-9 tahun menyebrang jalan seperti saya. Dan ketika sampai ditempat saya, ia kemudian menyetop bus, lalu menaikkan anak-anak tersebut ke dalam mobil. Pada saat itu, saya bergumam sambil berkata:” Tuhan, Tuhan seperti itu ya, kepada anak-anakNya.” Tidak saya sangka, tiba-tiba saya mendengar suara, JELAS sekali, Suara itu PENUH KASIH, LEMAH LEMBUT dan SANGAT BERWIBAWA, Suara itu keluar dari dalam diri saya yang meresponi perkataan saya tadi. Suara itu berkata:”Ya, aku juga seperti itu kepada anak-anakKu. Sebab jika tidak Aku tuntun, akan banyak ranjau yang akan meledakkan anak itu. Jadi setiap anak-anakKu, Aku akan pimpin sampai tujuan.” Saya tahu itu Suara Tuhan. saya mengenal-Nya

Iblis memasang jerat berupa umpan, kalau dari cerita di atas, Suara-Nya menggambarkan umpan musuh dengan istilah "ranjau" yang perlu diwaspadai oleh setiap pemercaya dalam perjalanan hidup mereka. Saya percaya ranjau yang ditanam oleh musuh yang selalu tidak pernah terlihat, salah satunya adalah pelanggaran yang melukai hati. Ranjau "sakit hati" atau ranjau "pelanggaran hati" sudah banyak menelan korban-korbannya. Mereka yang terkena ranjau ini biasanya akan "lumpuh" baik secara sebagian atau total dalam kehidupan rohani mereka. Tetapi itu pembahasan lainnya. Coba nanti bersedia belajar akan membahas pada postingan berikutnya.

Bagi mereka yang mengadakannya (melukai perasaan hati orang lain) di atas Alkitab dengan tegas mengatakan CELAKALAH mereka yang mengadakannya. Mari kita lihat penegasanNya yang lain:
  • "Aku akan bangkit melawan mereka, demikianlah firman Tuhan semesta alam." (Yesaya 14:22)
           Konteks ayat tersebut ditujukan kepada raja Babel yang telah melakukan tindakan aniaya kepada umat-Nya Israel
  • "Tetapi Engkaulah yang memberi kemenangan terhadap para lawan kami, dan orang-orang yang membenci kami, Kau beri malu." (Mazmur 44:8)
              Jika melihat konteks ayat tersebut, judul perikop ayatnya berjudul "Jeritan bangsa yang tertindas"

Tuhan sudah membuat schema / guedance yang jelas bagi umat-Nya: "Pembalasan adalah hak-Ku, Akulah yang melakukan pembalasan." Bagi kita umat-Nya tabu untuk membalas kejahatan dengan kejahatan. Seperti Guru Yang Agung telah memberi contoh, "menyerahkan kepada Dia, yang menghakimi dengan adil" (1 Pet.2:23b), demikianlah semestinya kita yang karena kehendak Allah telah mengalami (sedang mengalami) aniaya atau pelanggaran yang melukai hati. Ketika kita melakukan hal ini, lihatlah Ia akan bangkit melawan mereka. Ia akan memberi kemenangan kepada kita, dan Dia akan memberi mereka malu. dengan cara yang bagaimana hal itu nanti terjadi kepada mereka? Itu bukan urusan kita. Tetapi percayalah hal itu pasti terjadi, karena itu firman Tuhan, dalam berbagai cara dan bentuk-bentuk yang berbeda satu dengan yang lainnya. Pasti akan banyak kisah yang dapat diceritakan, apakah Anda pernah menyaksikannya? Berharap Anda pernah menyaksikannya. Bersediakah Anda menceritakan pengalaman Anda bagaimana Allah menjaga hidup Anda dari yang jahat, bahkan bukan saja menjaga saja tetapi juga Dia membela Anda, Dia memberi Anda kemenangan dan "menghukum" (memberi malu) mereka yang telah berbuat jahat kepada Anda? Silahkah Anda mengisahkannya apabila pernah mengalami atau menyaksikannya, bisa dikirim ke email bersedia belajar@gmail.com atau mengisi di kolom komentar.

Allah itu kasih, begitu pula kasihNya ada pada setiap pemercaya. Kejahatan seperti perlakuan kasar, tidak adil, semena-mena, balas jahat dengan jahat, sakit hati atau kebencian semestinya tidak boleh bersarang di dalam kehidupan pemercaya. seperti gambaran pernyataan alegoris yang benar ini :"Kita tidak bisa melarang burung terbang di atas kepala kita, tetapi kita bisa melarang bahkan menyingkirkannya dari kepala kita jika ia mau bersarang di atas  kepala kita." itu sisi dari sifat sejati dari diri-Nya. Sisi lainnya dari Dia adalah Dia itu adil. Dia adalah Hakim Yang Adil. Alkitab menegaskan:"Ngeri benar kalau jatuh ke dalam tangan Allah yang hidup" (Ibrani 10:31).

Mungkin diantara Anda akan berkata:"Allah yang penuh kasih tentunya tidak akan menimpakan celaka kepada manusia sekalipun ia telah berbuat jahat. Andapun mungkin akan berkata: "Tidak mungkin Allah berbuat jahat, karena di dalam diri-Nya tidak ada sedikit pun kejahatan / kegelapan."  Begini jawabannya:
  1. Memang benar bahwa "Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang." (Yakobus 1:17a).Allah yang penuh kasih itu tidak melakukan perbuatan jahat kepada siapun juga, terlebih kepada anak-anak-Nya. Semestinya keturunan-Nya (semua pemercaya) memiliki gaya hidup yang sama dengan Dia.
  2. Yang perlu diingat juga pernyataan seperti ini:"Jangan sesat Allah tidak ingin diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya." (Galatia 6:7). Jadi jika Anda menabur yang jahat kepada orang lain dengan perkataan atau perbuatan yang menyinggung / menyakiti perasaan orang lain, yang Anda lakukan itu kejahatan, maka kejahatanlah yang nantinya juga akan Anda tuai. Kejahatan yang akan mengejar Anda. Untuk itu taburlah kebaikan dan kebenaran, maka Anda akan dikejar dengan kebaikan-kebaikan dan kebenaran.
  3. Dari beberapa kasus baik dari catatan Alkitab di Perjanjian Lama ataupun di Perjanjian Baru, Allah melakukan penghukuman sebagai Allah Yang Berdaulat kepada mereka yang telah melakukan kejahatan begitu rupa: sampai puncaknya, dengan cara pemusnahan masal dengan penghukuman melalui air bah ---) kasus pada zaman Nu, atau hukuman dengan api belerang ---) kasus kota Sodom dan Gomora, sebagai bentuk pelajaran untuk umat manusia lainnya dikemudian hari untuk tidak berbuat jahat. Atau Allah bertindak dengan membiarkan umat-Nya tertindas oleh bangsa-bangsa lain. Itu dilakukan-Nya agar umat-Nya berbalik dari jalan-jalannya yang jahat. Untuk itu jika kita sebagai anak-anak-Nya mendapat "didikan-Nya", jangan putus asa, berdalih-dalih atau menentang kebenaran, "didikan-Nya" kepada kita itu berarti agar kita tidak akan dihukum bersama-sama dengan dunia ini, agar kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya, jadi kita perlu sadar dan bertobat dari setiap sikap / perbuatan kita yang Dia sebut sebagai KEJAHATAN.
Terimalah kasih-Nya, karena itulah yang membedakan orang pemercaya yang adalah murid-murid-Nya dengan mereka yang bukan. Apa yang membedakan penyembah yang benar dengan penyembah berhala: jawabannya ialah KASIH. Ya, Itulah yang membedakan kehidupan murid-murid-Nya dengan murid-murid dari dunia ini yaitu: adanya dan tidak adanya KASIH. Dan itulah yang membedakan ajaran yang benar dengan pengajaran-pengajaran yang palsu (kelihatan asli tetapi palsu): apakah Allah yang disembah-Nya mengajarkan dan bergaya hidup KASIH atau KEBENCIAN. Mari hiduplah dengan sifat sejati lainnya dari Dia, yakni penuh belas kasihan, sabar, rendah hati, penyayang, pendamai, rendah hati dan buah-buah Roh lainnya.....

Salam,
Sukses Selalu

Bersedia Belajar



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

“Terima Kasih Telah Memberikan Waktu dan Komentarnya. Sudi kiranya berkomentar lagi di posting saya berikutnya” – Salam > Bersediabelajar.

Daftar isi

Daftar Isi