}

11.29.2011

Tukang Potret dan Gadis Kecil

D

alam bukunya "Blessings and Woes", Megam McKenna menceritakan kisah seorang pemotret yang mengamati dunia lewat lensa kameranya, namun gagal membidik gambar yang terpenting dalam hidupnya. Kisah ini sungguh menggugah hati siapa saja yang terbuka, semoga kisah ini yang bersedia belajar ambil dari Sumber: The God We Encounter at the Super Table, memberi inspirasi kepada semua pembaca yang kebetulan mengunjungi blogku.
Diakhir tahun 1980'an Ekuador dilanda krisis ekonomi berat. Lalu, dalam proporsi besar sekali, terserang epidemi wabah kolera. Seakan masih kurang, bencana alam silih menghantam memporak perandakan seluruh desa2 maupun kota2. PBB maupun Pelayanan Bantuan merespon dengan membawakan persediaan jagung, produk2 kedelai, susu, buah2an, tortilla (=panganan dari tepung jagung), beras dan kacang2an.
Juru potret itu mengambil posisi disuatu jalan utama dimana orang2 sakit, mereka yang kelaparan, orang2 yang sudah letih lesu saling berbaris menunggu pembagian makanan. Ia sudah terlatih untuk mengawasi detail2 kecil dan situasi umumnya yang sedang berkembang. Ia tertarik pada seorang gadis -- kurus kering dan dekil kotor, sekitar 9 atau 10 tahun umurnya. Diamatinya, selagi gadis ini dengan sabar antri, matanya selalu tertuju pada tiga anak lain lagi yang saling erat berjongkok dibawah sebuah pohon besar, memayungi diri dan menghindar dari terik panas matahari. Dua bocah laki2, sekitar umur 5 dan 7, saling menggandeng seorang gadis kecil sekitar 3 tahun. Karena perhatiannya teralihkan, gadis itu tidak melihat bahwa pekerja2 sosial itu sedang kehabisan persediaan makanan.
Jantung ahli potret itu berdetak keras. Kameranya juga sudah siap.
Setelah ber-jam2 terjemur dibawah matahari, gadis kecil itu akhirnya mendapatkan giliran dilayani. Yang ia terima cuma sebuah pisang. Tetapi, reaksinya begitu memukau dan seakan melumpuhkan tukang potret ini. Pertama, wajahnya menyala, bersinar dalam sebuah senyum begitu manis. Ia menerima pisang itu dan membungkuk pada pekerja sosialnya. Lalu cepat2 sekali ia berlari menuju ketiga anak2 kecil dibawah pohon tadi. Dengan amat hati2 ia menguliti, membaginya rata dalam 3 potong dan dengan sopan, hati2 sekali, ditaruhnya masing2 kedalam tangan tiap anak. Bersama2 mereka menundukkan kepala dan berdoa mengucap syukur! Lalu, perlahan2, mereka memakan potongan pisang, benar2 menikmati setiap gigitannya, sedang gadis tertua itu mengisapi kulitnya.
Tukang potret itu terdiam seribu bahasa. Tak tertahan lagi, ia mulai menangis tersedu-sedu, lupa samasekali akan semua kameranya dan akan tujuan utamanya ia hadir disana. Belakangan, setelah sadar kembali, ia bertutur, ketika sedang mengamati gadis itu, ia melihat wajah Allah bersinar. Ia sempat mengintip secuil kecil Kerajaan Allah dalam wajah dan tindakan-tindakan seorang gadis miskin jalanan yang begitu kaya dalam kemurahan hati, cinta kasih dan saling kepedulian. Ia memang benar: itu memang wajah Allah yang dilihatnya didalam diri gadis kecil itu yang "mematikan" kebutuhan-kebutuhannya sendiri agar yang lainnya bisa dipuaskan dan hidup.Dari cerita di atas apa yang kita pelajari? Kita mau mencontoh gadis kecil yang kelaparan tapi tidak egois, tapi menyayangi adiknya, bahkan dia rela menderita demi adik-adiknya, bagaimana dengan kita?


Semoga Bermanfaat - Sukses Selalu,
Bersedia Belajar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

“Terima Kasih Telah Memberikan Waktu dan Komentarnya. Sudi kiranya berkomentar lagi di posting saya berikutnya” – Salam > Bersediabelajar.

Daftar isi

Daftar Isi