}

11.28.2011

Tokoh Yang Berani

B
eberapa hari yang lalu, bersedia belajar pada suatu pertemuan, mendengarkan sesi sharing yang dibawakan oleh suatu tokoh yang bersedia belajar bisa dikatakan tokoh yang berani. Mengapa begitu?
Nah, untuk itu pada postingan kali ini, setelah sela beberapa saat dari kesibukan mengerjakan pekerjaan, bersedia belajar memutuskan untuk mengangkat sebagian kisahnya diblog ini, tujuannya hanya karena tergerak saja agar kisah dari tokoh ini dapat juga menginspirasi sahabat dan pengunjung blog bersedia belajar di manapun.

Siapa tokoh yang dimaksud? Dia bernama: Ir Basuki Tjahaja Purnama, MM yang disebut juga dengan nama Ahok. Mengapa bersedia belajar mengatakan tokoh yang berani? Lahir keturunan Tionghoa di Manggar, Belitung Timur 29 Juni 1966, beragama Kristen, setelah selesai menyelesaikan kuliah Strata Satunya (S1) di Universitas Trisakti jurusan Teknologi Geologi dan Strata Duanya (S2) di Sekolah Tinggi Manajemen Prasetiya Mulya Jakarta. Mendapat gelar Master in Bussiness Administrasi (MBA) atau Magister Manajemen (MM), pada tahun 2005 berani menantang hal yang belum dilakukan sebelumnya dan hal yang tidak mungkin dengan mencalon diri untuk menjadi Bupati Belitung Timur. Dengan kampanyenya yang tidak mengandalkan politik uang, dari golongan minoritas, tidak memiliki basis masa yang memadai (Belitung Timur basis masa dikuasai Masyumi kampung dari Yusril Ihza Mahendra). Ahok mempertahankan cara kampanyenya, yaitu dengan mengajar dan melayani langsung rakyat dengan memberikan nomor telfon genggamnya yang juga adalah nomor yang dipakai untuk berkomunikasi dengan keluarganya. Dengan cara ini ia mampu mengerti dan merasakan langsung situasi dan kebutuhan rakyat. Dengan cara kampanye yang tidak “tradisional” ini, yaitu tanpa politik uang, ia secara mengejutkan berhasil mengantongi suara 37,13 persen dan menjadi Bupati Belitung Timur periode 2005-2010. Kiprah "beraninya" selanjutnya akan dikutip dari sumber web Ahok:

Kisah Selanjutnya
Kesuksesan ini terdengar ke seluruh Bangka Belitung dan mulailah muncul suara-suara untuk mendorong Ahok maju sebagai Gubernur di tahun 2007. Kesuksesannya di Belitung Timur tercermin dalam pemilihan Gubernur Babel ketika 63 persen pemilih di Belitung Timur memilih Ahok. Namun sayang, karena banyaknya manipulasi dalam proses pemungutan dan penghitungan suara, ia gagal menjadi Gubernur Babel.
Dalam pemilu legislative 2009 ia maju sebagai caleg dari Golkar. Meski awalnya ditempatkan pada nomor urut keempat dalam daftar caleg (padahal di Babel hanya tersedia 3 kursi), ia berhasil mendapatkan suara terbanyak dan memperoleh kursi DPR berkat perubahan sistem pembagian kursi dari nomor urut menjadi suara terbanyak.
Selama di DPR, ia duduk di komisi II. Ia dikenal oleh kawan dan lawan sebagai figur yang apa adanya, vokal, dan mudah diakses oleh masyarakat banyak. Lewat kiprahnya di DPR ia menciptakan standard baru bagi anggota-anggota DPR lain dalam anti-korupsi, transparansi dan profesionalisme. Ia bisa dikatakan sebagai pioner dalam pelaporan aktivitas kerja DPR baik dalam proses pembahasan undang-undang maupun dalam berbagai kunjungan kerja. Semua laporan bisa diakses melalui websitenya. Sementara itu, staf ahlinya bukan hanya sekedar bekerja menyediakan materi undang-undang tetapi juga secara aktif mengumpulkan informasi dan mengadvokasi kebutuhan masyarakat. Saat ini, salah satu hal fundamental yang ia sedang perjuangkan adalah bagaimana memperbaiki sistem rekrutmen kandidat kepala daerah untuk mencegah koruptor masuk dalam persaingan pemilukada dan membuka peluang bagi individu-individu idealis untuk masuk merebut kepemimpinan di daerah.
Ahok berkeyakinan bahwa perubahan di Indonesia bergantung pada apakah individu-individu idealis berani masuk ke politik dan ketika di dalam berani mempertahankan integritasnya. Baginya, di alam demokrasi, yang baik dan yang jahat memiliki peluang yang sama untuk merebut kepemimpinan politik. Jika individu-individu idealis tidak berani masuk, tidak aneh kalau sampai hari ini politik dan birokrasi Indonesia masih sangat korup. Oleh karena itu ia berharap model berpolitik yang ia sudah jalankan bisa dijadikan contoh oleh rekan-rekan idealis lain untuk masuk dan berjuang dalam politik. Sampai hari ini ia masih terus berkeliling bertemu dengan masyarakat untuk menyampaikan pesan ini dan pentingnya memiliki pemimpin yang bersih, transparan, dan profesional.
Di tahun 2006, Ahok dinobatkan oleh Majalah TEMPO sebagai salah satu dari 10 tokoh yang mengubah Indonesia. Di tahun 2007 ia dinobatkan sebagai Tokoh Anti Korupsi dari penyelenggara negara oleh Gerakan Tiga Pilar Kemitraan yang terdiri dari KADIN, Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara, dan Masyarakat Transparansi Indonesia. Melihat kiprahnya, kita bisa mengatakan bahwa berpolitik ala Ahok adalah berpolitik atas dasar nilai pelayanan, ketulusan, kejujuran, dan pengorbanan; bukan politik instan yang sarat pencitraan.

Meski keturunan Tionghoa, namun hal itu tak menyurutkan Basuki Tjahya Purnama atau Ahok untuk mencalonkan diri menjadi Gubernur DKI Jakarta.

“Saya di tentang oleh temen saya untuk mencalonkan jadi gubernur DKI Jakarta. Gila lo, kan elo keturunan Tionghoa, bisa dibunuh lo. Tapi tak menyurutkan niat saya,” kata Ahok, anggota DPR RI komisi II di acara dialog the Indonesian Dream: Namun jika gagal maka ia akan maju melalui calon independen.

Jalur Independen ini dipilhnya karena calon yang 100 persen populer namun elektabilitasnya hanya 10 persen di yakini tidak akan memenangkan pilkada.

“Saya sedang mempersiapkan 500.000 KTP untuk maju lewat jalur Independen. SAya juga meminta dukungan 20.000 warga DKI Jakarta untuk setiap orang menyumbang 20.000. Saya kan ingin mengubah nasib warga Jakarta. tandasnya.

Lebih Lanjut Ahok menjelaskan, ia yakin dapat dipilih masyarakat DKI Jakarta karena ia Profesional dan Bersih. Karena ia tidak harus mengeluarkan uang ratusan miliar.

Ia memprediksi dana untuk ikut pilkada DKI jakarta sebesar 10 miliar. Jika ada calon yang mengeluarkan dana hingga ratusan miliar karena mereka harus membayar suara. Per orang itu Rp.200.000.

“Pejabat itu harus terbuka dan transparan. Kalau tidak terbuka dan Transparan berarti ada apa-apanya. Pejabat juga harus dekat dengan masyarakat, karena itu telepon harus 24 jam untuk warga,” paparnya.

Ahok menyatakan bahwa bila ia terpilih menjadi Gubernur DKI Jakarta maka ia akan menjadikan DKI sebagai kota percontohan Jaminan Sosial Nasional. Dengan begitu tidak ada lagi warga DKI yang kelaparan dan tinggal di rumah tidak layak huni.[WartaKota 5/7]


Semoga Bermanfaat - Sukses Selalu,
Bersedia Belajar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

“Terima Kasih Telah Memberikan Waktu dan Komentarnya. Sudi kiranya berkomentar lagi di posting saya berikutnya” – Salam > Bersediabelajar.

Daftar isi

Daftar Isi